MagzNetwork

Rapat Kerja IAIN Imam Bonjol 2011

Diposting oleh Fakultas Ilmu Budaya - Adab | 21.18 | | 0 komentar »


Rapat Kerja Pimpinan IAIN Imam Bonjol Padang tahun 2011 diselenggarakan selama 4 hari mulai tanggal 09 sampai 12 Februari 2011 di Bukittinggi. Tema yang diangkatkan pada Raker ini adalah : "Melalui Anggaran Berbasis Kinerja Kita Tingkatkan Pelayanan IAIN Imam Bonjol Padang dalam Menyongsong BLU Tahun 2011". Raker kali ini disamping bertujuan untuk menyusun RKAKL (Rencana Kegiatan Anggaran Kementerian Lembaga) IAIN Imam Bonjol untuk tahun 2011 juga sekaligus dalam rangka mempersiapkan IAIN Imam Bonjol menjadi lembaga BLU (Badan Layanan Umum). Raker ini diikuti dihadiri oleh l.k 90 orang peserta yang terdiri dari Rektor, Pembantu-Pembantu Rektor, Kepala Biro, Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas dalam lingkungan IAIN Imam Bonjol, Direktur dan Asisten Direktur Pascasarjana, Kabag dan Kasubag di lingkungan IAIN Imam Bonjol Padang. Berbeda dari tahun lalu, Raker kali ini mengikutsertakan pula anggota Senat IAIN Imam Bonjol Padang dan mendatangkan nara sumber dari Kemenag Pusat seperti Kabag Keuangan/BMN, Kabag PNBP/BLU Kementerian Agama RI, dan instansi terkait yaitu Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan Wilayah Sumatera Barat.



...selengkapnya...

Pelantikan Ketua Jur. BSA dan IIP

Diposting oleh Fakultas Ilmu Budaya - Adab | 10.23 | | 0 komentar »

Bertempat di ruangan Sidang Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN Imam Bonjol Padang, hari Jum'at tanggal 4 Februari 2011, dilaksanakan pelantikan Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) serta Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan (IIP) yang baru. Drs. Maksum, M.Ag dan Dra. Nurhayati Zen, M.Ag. dilantik oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya-Adab, Drs. Irhash A. Shamad, M.Hum (atas nama Rektor IAIN Imam Bonjol Padang), masing-masing sebagai Ketua Jurusan BSA dan Ketua Jurusan IIP yang baru. Drs. Maksum, M.Ag dilantik sebagai Ketua Jurusan BSA Antar Waktu (periode 2008-2012) karena ketua yang lama, Dr. H. Ahmad Shafwan Nawawi, M.Ag meninggal dunia (baca : release dibawah). Demikian juga halnya dengan Ketua Jurusan IIP, Dra. Nurhayati Zen, M.Ag meneruskan jabatan Bpk. Drs.H. Raichul Amar, M.Pd karena beliau telah memasuki usia pensiun (purna bakti). Pelantikan ini merupakan follow up dari hasil Rapat Senat Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN Imam Bonjol Padang tanggal 25 dan 26 Nopember 2010 tentang Penggantian Antar Waktu Ketua Jurusan BSA dan IIP Periode 2008-2012.

Pelantikan yang dihadiri oleh dosen-dosen-dosen Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN Imam Bonjol Padang ini cukup mengharukan. Dalam sambutan perpisahannya, Ketua IIP yang lama - Drs. H. Raichul Amar, M.Pd - dengan suara serak sempat mengatakan, "sudah 44 tahun saya mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil dan sejak tahun 1985 saya menjadi dosen di Fakultas Adab, banyak lika-liku yang saya lalui, tak semuanya inspiratif. Ambillah yang baik dan janga ditiru yang buruk". Dekan Fakultas Ilmu Budaya-Adab, Drs. Irhash A. Shamad, M.Hum dalam sambutan apresiatif-nya mengatakan, "Saya tidak dapat menyembunyikan rasa kagum saya kepada dua figur ini, Drs. H. Raichul Amar, M.Pd dan almarhum Dr.H. Ahmad Shafwan Nawawi, M.Ag. Dua figur yang memberikan kepada kita makna dari yang namanya dedikasi dan ketulusan. Semoga nilai-nilai baik yang mereka berikan bisa kita pertahankan". Dalam sambutannya, Dekan juga kembali mengingatkan bahwa tantangan terbesar dari Jurusan dan Program Studi di Fakutas Adab adalah masalah legalisasi akademik dan Akreditasi.
...selengkapnya...

Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN Imam Bonjol Padang sejak awal tahun 2011 ini telah memiliki 2 orang Guru Besar. Setelah Prof. Dr. H. Maidir Harun yang merupakan Guru Besar dalam bidang ilmu Sejarah dan Kebudayaan Islam sejak tahun 2001 yang lalu, maka pada bulan Januari 2011 menyusul Prof. Dr. H. Saifullah SA., MA. dalam bidang ilmu Metode Studi Islam. Insya Allah, orasi ilmiah Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Saifullah SA., MA ini akan dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 2011 di Aula Program Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol Padang. Orasi ilmiah yang akan disampaikan oleh mantan Dekan Fakultas Adab (1998-2002) ini berjudul "Shamsiah Fakeh : Pergulatan Politik Perempuan Malaysia Keturunan Minangkabau dalam Partai Komunis Malaysia". Semoga, dengan bertambahnya Guru Besar di Fakultas Adab akan menambah performan par-excellent Fakultas Adab ke depan. Semoga !. Buat Pak Saifullah, selamat dan semoga lebih kontributif bagi institusi dan ranah akademik.
...selengkapnya...

Ujian Semester Ganjil Tahun Akademik 2010/2011

Diposting oleh Fakultas Ilmu Budaya - Adab | 18.54 | | 0 komentar »

Mulai hari ini, Senin 30 Januari 2011 hingga tanggal 13 Februari 2011, seluruh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN Imam Bonjol Padang mengikuti Ujian Akhir Semester. Ujian akhir semester merupakan evaluasi bagi para mahasiswa untuk mengetahui seberapa jauh kemampuannya dalam menyerap pelajaran pada suatu mata kuliah dan mengetahui tingkat kemajuan belajar mahasiswa dan penilaian hasil belajar mahasiswa. Ujian yang diikuti oleh seluruh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya - Adab ini dibuka oleh Pembantu Dekan III (Dr. Firdaus, M.Ag). "Kita berharap, Ujian Akhir Semester ini bukan hanya sebagai bentuk evaluasi kemajuan PBM saja, akan tetapi evaluasi terhadap tingkat kedisiplinan mahasiswa", demikian Dr. Firdaus, M.Ag. Selamat mengikuti Ujian Akhir Semester. Semoga berhasil.
...selengkapnya...

Evaluasi di Pergantian Tahun

Diposting oleh Fakultas Ilmu Budaya - Adab | 22.21 | | 0 komentar »

Kutipan Amanat yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya-Adab pada Upacara Bendera 17 Desember 2010 di lapangan parkir IAIN Imam Bonjol Kampus Lubuk Lintah Padang

Upacara bendera kali ini merupakan upacara penutup akhir tahun 2010 Masehi dan sekaligus upacara pertama tahun baru 1432 Hijriyah. Di setiap pergantian tahun kita selalu memaknainya sebagai keharusan untuk melakukan evaluasi terhadap semua apa yang telah dilakukan pada waktu sebelumnya

Evaluasi merupakan bagian yang penting dilakukan dalam proses managemen diri maupun institusi. Ini ditujukan untuk pencapaian hasil yang lebih optimal dari setiap program yang dilaksanakan . Dengan melakukan evaluasi, kita akan mengetahui berbagai kelemahan dan kekuatan kita pada waktu sebelumnya untuk kemudian dijadikan pertimbangan bagi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan berikutnya.

Semenjak awal agama telah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya evaluasi. Dalam surat al-Hasyr ayat 18 Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk perencanaan hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Ayat ini sudah cukup populer disampaikan dalam berbagai kesempatan. Terdapat anjuran untuk senantiasa bertaqwa. Taqwa bisa diartikan sebagai god consiousness, yaitu kesadaran akan kekuasaan Allah SWT dalam situasi dan kondisi apapun juga. Sebagai wujud kesadaran itu, kita dituntut untuk mawas diri dan berhati-hati terhadap segala kemungkinan kesalahan dan dosa dalam setiap apa yang kita lakukan.

Menyangkut keharusan evaluasi dalam ayat ini Allah SWT mengingatkan bahwa hendaklah setiap diri atau individu melakukan proses evaluasi. Perintah melakukan evaluasi menggunakan kata“tandhur” yang mengandung arti melihat dengan penuh seksama atau memperhatikan secara komprehensif. Kita sebagai individu diwajibkan melihat dengan seksama dan komprehensif terhadap segala sesuatu yang telah dilakukan. Kata “ma” dalam ayat ini bermakna perbuatan, sifat, amalan dan lain-lain dengan perluasan makna yang mencakup segala jenis kegiatan.

Selanjutnya dijelaskan bahwa evaluasi yang dilakukan ini haruslah menjadi feedback dalam menyusun perencanaan yang diorientasikan ke kehidupan esok yang lebih baik. Ini menegaskan kepada kita bahwa masa depan yang lebih baik dapat dicapai dengan perencanaan yang didasarkan pada pengamatan yang baik terhadap apa yang telah kita lakukan sebelumnya

Karena itu, evaluasi tidak dapat dipisahkan dengan mekanisme perencanaan dan juga kontrol. Suatu kegiatan atau program yang baik selalu diawali dengan suatu perencanaan yang baik. Demikian juga suatu perencanaan tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak dilakukan kontrol terhadap pelaksanaannya, terutama menyangkut kesesuaian pelaksanaan kegiatan atau program dengan apa yang telah direncanakan semula. Pendek kata mekanisme perencanaan, kontrol dan evaluasi dalam segala tingkatannya tentu merupakan kemestian, bila kita, baik sebagai individu maupun sebagai institusi, memiliki kemauan untuk berubah ke arah yang lebih baik dari setiap langkah program yang dilaksanakan.

Kesetaraan dan kesesuaian ketiga elemen ini akan menjadi tolok ukur untuk menentukan keberhasilan kita dari waktu ke waktu. Ketidak sesuaian sering muncul karena perencanaan yang dibuat tidak realistis dan mengawang. Ini tentu akan menimbulkan kendala dalam pelaksanaannya karena tidak sesuai dengan kemampuan kita untuk melaksanakannya, sehingga tujuan tidak tercapai. Begitu juga misalnya, bila perencanaan sudah dibuat sangat baik, tapi dalam pelaksanaannya muncul berbagai kecendrungan untuk meluar dari garisan yang telah dibuat, program menjadi over dan tidak jarang memunculkan berbagai implikasi yang pada dasarnya juga merupakan sebuah kegagalan.

Setiap kita tentu tidak menginginkan kegagalan sebagai mana kita juga tentu menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Suatu sistem yang ingin berubah juga sangat tergantung dari individu-individu yang menjadi elemen pendukungnya, maka perubahan ke arah yang lebih baik tentu juga mengharuskan setiap elemen itu memiliki sikap dan komitmen untuk berorientasi ke arah yang lebih baik. Demikian juga kesadaran kita akan arti tanggung jawab sesuai dengan garis-garis yang telah ditentukan serta kemauan untuk melakukan evaluasi dalam setiap pelaksanaan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab kita masing-masing

Demikian disampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan di pergantian tahun ini kita dapat melakukan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan untuk merencanakan hari esok yang lebih baik.


...selengkapnya...

Pembekalan Praktikum Keislaman

Diposting oleh Fakultas Ilmu Budaya - Adab | 23.35 | , | 0 komentar »


FIB-Adab, Minggu 28 Nopember 2010, bertempat di Aula gedung D FIB-Adab, dilaksanakan kegiatan Pembekalan Praktikum Keislaman bagi mahasiswa semester III S.1 semua jurusan. Kegiatan Pembekalan yang berlangsung satu hari penuh ini diikuti oleh 105 orang mahasiswa semester III semua jurusan dalam rangka persiapan pelaksanaan Praktikum Lapangan yang akan dilaksanakan pada tanggal 4-5 dan 11-12 Desember mendatang, demikian dikemukakan oleh Ketua Panitia Pelaksana Praktikum Keislaman FIB-Adab, Dr. Taufiqurrahman, M.Ag, M. Hum, dalam pengantarnya pada acara pembukaan kegiatan ini. Selanjutnya ditambahkan bahwa mahasiswa praktikum keislaman ini akan dtempatkan di 10 masjid yang terdapat di sekitar Lubuk Lintah dan Anduring dengan didampingi oleh 10 orang dosen pembimbing lapangan.

Dekan FIB-Adab Drs. Irhash A. Shamad dalam pengarahannya pada acara pembukaan pembekalan ini, antara lain mengemukakan bahwa praktikum keislaman ini adalah menjadi bagian dari proses belajar mengajar sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan secara resmi di institusi ini. Pelaksanaan praktikum keislaman menjadi salah satu rangkaian praktikum yang wajib diikuti oleh mahasiswa sebelum menyelesaikan studi di FIB-Adab dan merupakan keharusan untuk melengkapi kompetensi utama lulusan PTAI, sehingga lulusan yang dihasilkan memiliki kemampuan praktis dalam memberikan pengayoman dalam kehidupan keagaman di masyarakat nantinya
...selengkapnya...

FIB-Adab Terima Tamu dari Osaka University dan Arsip Nasional Jepang

Diposting oleh Fakultas Ilmu Budaya - Adab | 23.18 | | 0 komentar »


Fakultas Ilmu Budaya-Adab, Jum'at 26 Nopember 2010, menerima kunjungan tiga orang tamu dari Jepang yaitu Itaro Haritomo dan Ikuko Nakajima dari Arsip Nasional Jepang, dan Yumi Sugahara dari Osaka University. Kunjungan singkat ini, selain bertujuan untuk mengenal lebih dekat Fakultas Ilmu Budaya-Adab, juga untuk meninjau penyimpanan naskah kuno yang ada pada Labor Sejarah FIB-Adab. Dalam bincang-bincang yang berlangsung singkat di ruangan Dekan, Yumi Sugahara mengemukakan bahwa Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN yang berkeahlian dasar agama dan bahasa Arab dianggap lebih memiliki otoritas dalam melakukan ekskavasi, konservasi, dan pengkajian terhadap naskah-naskah keagamaan lokal yang banyak ditulis dalam tulisan dan bahasa Arab. Dekan FIB-A, Drs Irhash A. Shamad juga mengemukakan bahwa FIB-A beberapa tahun terakhir sangat berkosentrasi dalam pengembangan keilmuan Filologi dan pengkajian terhadap naskah-naskah keagamaan sebagai kelanjutan dari upaya fakultas ini dalam pengumpulan naskah-naskah kuno yang telah dilaksanakan sejak beberapa tahun yang lalu. Dalam dua tahun terakhir FIB-A telah mengirim beberapa orang tenaga pengajar untuk mengikuti pendidikan tambahan dalam bidang kajian filologi dimaksud, demikian Dekan. Kunjungan singkat ini diakhiri dengan melihat koleksi naskah keagamaan FIB-A pada Labor Sejarah jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI).
...selengkapnya...

Sosialisasi Gempa dan Tsunamy

Diposting oleh Fakultas Ilmu Budaya - Adab | 13.55 | | 0 komentar »

Bertempat di Aula Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN Imam Bonjol Padang, dilaksanakan acara sosialisasi dan diskusi penanggulangan bencana gempa dan tsunamy. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 - 11.00 WIB ini dihadiri oleh dosen, karyawan dan mahasiswa. Materi pengenalan dasar dan antisipasi-logis bila gempa dan tsunamy terjadi, diberikan oleh Bpk. Yadrison dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang dan Willy Wicaksono dari GTZ (NGO dari Jerman yang memasang Early Warning System di Sumatera Barat). Selain menyampaikan pandangan-pandangan tentang apa itu gempa dan tsunamy serta bagaimana posisi geologis Sumatera Barat (khususnya Kota Padang) terhadap gempa, juga dipaparkan antisipasi-logis yang harus dilakukan bila bencana alam ini terjadi.
...selengkapnya...

Selama bulan Nopember - Desember 2010 ini, Fakultas Ilmu Budaya-Adab melaksanakan beberapa kegiatan praktikum. Kegiatan praktikum ini wajib diambil oleh mahasiswa (kecuali Program Studi D III PAD). Praktikum Tilawah merupakan praktikum yang harus diikuti seluruh mahasiswa Jurusan BSA, SKI, BSI dan IIP semester I. Sedangkan Praktikum KeIslaman merupakan praktikum wajib bagi mahasiswa yang duduk pada semester III. Untuk Praktikum TOEFL dan TOAFL harus diiikuti oleh mahasiswa semester V. Praktikum Tilawah telah dilaksanakan sejak Tahun Akademik 2007/2008, walaupun sebenarnya telah dilaksanakan sejak dulu dalam bentuk mata kuliah - Praktek Tilawah dengan bobot 0 (nol) Sks. Sementara itu, Praktikum keIslaman, untuk tahun akademik 2010/2011 merupakan kali kadua dilaksanakan. Sedangkan Praktikum TOEFL dan TOAFL, tahun akademik 2010/2011 merupakan praktikum yang pertama sekali dilaksanakan selama ini.



...selengkapnya...

Asrul Sani, sastrawan dan sutradara film jempolan yang pernah dimiliki Indonesia, begitu sederhana melihat manusia. Bagi putra Rao Pasaman yang merupakan sahabat karib Chairil Anwar ini, jenis manusia itu hanya ada dua : “Ada orang yang menganggap duduk di kursi sebagai sesuatu yang luks, dan berfikir atau berbuat sebagai hal yang biasa. Kemudian, ada yang menganggap duduk di kursi sebagai sesuatu yang biasa, tapi berfikir dan berbuat sebagai sesuatu yang luks”. Satu, berbuat terbaik karena posisi yang diemban, status yang disandang dan fungsi-peran yang dimiliki. Dua, berbuat baik dan maksimal, tanpa tergantung pada posisi dan jabatan yang disandang. Dan, Doktorandus Haji Raichul Amar Em.Pe.De, yang kesehariannya biasa dipanggil dengan Pak Men ini, bagi saya, bila meminjam kategorisasi sederhana Asrul Sani, termasuk insan manusia yang kedua. Menganggap berfikir dan berbuat itu adalah sesuatu yang substansial, memiliki nilai tinggi tanpa harus melihat, posisi dan jabatan apa yang disandangnya.

Sebagai orang yang sangat “senior” (baik ilmu dan pengalaman), Pak Men diakhir pengabdiannya, perkhidmatannya kata orang Malaysia, terus berbuat seperti Kuda Troya. Jabatan tertinggi yang pernah disandangnya sebagai Pembantu Rektor II serta Dosen Senior dengan golongan IV/c, sudah sepantasnya-lah beliau pada “detik-detik” terakhir sebelum pensiun, hanya menikmati “keseniorannya”. Datang ke kampus, menyapa, memberikan nasehat-nasehat “makro”, atau bertindak sebagai seorang Begawan dalam tradisi cultural perwayangan. Tapi, itu tidak dilakukan oleh satu-satunya dosen IAIN/UIN se-negeri Sumpah Palapa yang memenangi Kalpataru ini. Beliau tetap energik mengelola Jurusan IIP, sebagai ketua Jurusan. Sebuah jabatan yang sebenarnya “jauh” lebih rendah dibandingkan dengan, katakanlah, Pembantu Dekan II Fakultas Adab dan Pembantu Rektor II IAIN Imam Bonjol Padang, yang pernah disandangnya. Beliau tetap menganggap – sejauh yang saya rasakan dari interaksi interpersonal selama ini – jabatan tersebut bukan sesuatu yang luks. Jabatan itu biasa. Karena itu-lah, Beliau tetap energik mengelola Jurusan IIP seperti mengelola IAIN kala beliau menjadi Pembantu Rektor II. Keningnya tetap berkerut, khawatir dan cemas, kala Jurusan IIP mengalami “musibah” izin operasional. Untuk itu pula, beliau mau bolak balik “mancibuak” dan mengurus perizinan tersebut Jakarta-Padang. “Berkeringat” mengembangkan kualitas Jurusan IIP dan D III PAD, yang karena itu pula, beliau harus sering “hinggap” di Unpad dan UI, hanya untuk sekedar menjaga dan memastikan, apakah dosen-dosen Ilmu Perpustakaan Unpad Bandung dan UI Jakarta tetap mau membagi ilmu mereka pada civitas akademika IIP dan PAD. Beliau juga “berpeluh” menjaga hubungan baik dengan institusi-institusi di Sumatera Barat yang berpotensi membesarkan IIP dan PAD, ditengah-tengah keterbatasan financial yang ada. Dan itu beliau lakukan, dalam usianya dan perkhidmatannya yang sebenarnya hanya untuk ukuran seorang Begawan. Sungguh, Asrul Sani, tepat membagi jenis manusia.

Jika kita lihat lelaki dengan ransel yang disandang menyilang berjalan menyusuri kampus IAIN Imam Bonjol Padang, hampir setiap pagi dan jelang sore, jika kita ingat sosok berkacamata dengan tinggi sedang yang sangat menyukai olah raga “jalan kaki” yang juga disukai Mohammad Hatta kala dibuang di Bandarneira dulu, kita bisa iri kepadanya. Di usia 65 tahun, doktorandus Haji Raichul Amar Em.Pe.De, tetap energik seperti anak muda (dalam artian positif). Hampir tak pernah – bahkan tak pernah sama sekali – saya melihat beliau menyetir mobil sendirian (bukan berarti beliau tak punya mobil. Mobilnya merasa “sedih” karena tak pernah diduduki doktorandus Haji Raichul Amar Em.Pe.De ini). Selalu mencintai yang namanya “olah raga” jalan kaki. “Menyehatkan badan dan membuat kita senantiasa berinteraksi dengan berbagai fenomena yang terlihat”, katanya suatu ketika kala “mentraktir” saya minum Kopi Gingseng. Karena itu pulalah mungkin, beliau tidak pernah kehilangan stock “menulis”. Ide terus bermunculan, selalu actual. Bila pada umumnya insan akademik selalu menulis dalam bentuk teks-buku, maka “menulis” a-la Doktorandus Haji Raichul Amar Em.Pe.De adalah melalui foto-foto yang indah, “menggigit” dan actual. Dalam sebuah catatan Yurnaldi, seorang koresponden Kompas pada tahun 1995, Doktorandus Haji Raichul Amar Em.Pe.De dianggap sebagai insane akademik yang menyampaikan ide dan gagasannya dalam “ranah” yang dianggap asing oleh mereka yang bergelut dalam dunia akademik. Tapi disitulah kekuatan Doktorandus Haji Raichul Amar Em.Pe.De. Sesekali, beliau juga berpuisi. Saya tak tahu, darimana beliau belajar menulis puisi. Namun, kala saya membaca autobiografi-nya yang ditulis dalam format puisi serta buku-nya yang berjudul “Sarok”, saya berfikir, kita tak akan gamang bila beliau disandingkan dengan Taufik Ismail dalam sebuah forum seminar tentang pusi, katakanlah demikian.

Waktu demi waktu, energi dan fikiran dicurahkan beliau. Tanpa terasa, sudah 33 tahun beliau yang humoris ini, berkhidmat di IAIN Imam Bonjol Padang. Saya secara pribadi, telah berinteraksi dengannya sejak tahun 1993. Interaksi intens sekitar 10 tahun. Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangannya, bagi saya beliau sangat inspiratif. Di akhir beliau berkhidmat, beliau masih sempat menghidupkan sebuah tradisi yang jarang dihidupkan insane akademik, khsususnya di IAIN Imam Bonjol Padang, yaitu “pergi tampak punggung” dengan meninggalkan sebuah teks-buku. Penyair Kahlil Gibran suatu ketika pernah berkata, "Jangan kau tangisi hilangnya harus mawar di taman, tapi tangisilah kehilangan tradisi menanam mawar itu". Bukan harumnya, tapi tradisi untuk menciptakan keharuman itu. Dari mana datangnya harum, bila kita tak menanam sumber harum tersebut ?.
Indonesia, dibangun oleh banyak sekali orang, yang beberapa di antara mereka adalah para pecinta buku, para pemamah buku dan para penulis buku. Banyak sekali fragmen sejarah yang bisa menggambarkan hal itu. Saya akan langsung ingat kutipan Hatta yang sangat terkenal : "Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja, sebab dengan buku pikiranku tetap bebas." Hatta, lewat kutipannya itu, tampak benar sebagai orang yang sangat mencintai dan menghargai buku. Jika ingatan saya tidak berkhianat, kutipan itu muncul dalam buku Memoir yang ditulis Hatta sendiri. Kutipan itu muncul dalam konteks ketika Hatta sedang mengisahkan hari-harinya yang sepi di tanah buangan di Digul pada 1934, yang lantas berlanjut di pulau Ende pada 1936. Saya kira orang tak cukup alasan untuk menyebut kutipan itu tak lebih sebagai sok pamer. Dari buku ke buku, dari tulisan ke tulisan, sambung-menyambung menjadi satu, itulah insane akademik. Sayangnya, itu insane akademik dulu, setidaknya (sekali lagi) apa yang terdapat dan berlaku di IAIN Imam Bonjol Padang. Maka Doktorandus Haji Raichul Amar Em.Pe.De diakhir masa tugasnya kembali menghidupkan tradisi tulis, meninggalkan “ranah” aktualisasi peran formalnya dengan meninggalkan buku Refleksi Pengabdiannya selama ini di IAIN Imam Bonjol Padang. Sebuah usaha mengharumkan tradisi, sebagaimana yang dikatakan Kahlil Gibran diatas. Itulah Pak Men, selalu memberikan inspirasi bagi orang lain. Tak salah, bila seandainya saya ingin mengatakan, bahwa beliau adalah : “Seonggok Sejarah dalam Miniatur yang Padat”. 33 tahun adalah onggokan sejarah. Dan, selama 33 tahun tersebut, terlampau sedikit yang bisa diceritakan beliau dan yang bias kita tangkap. Selamat menempuh “ranah” yang lain, pak Men. Dan saya yakin, Bapak akan terus inspiratif. “Kenalkan, nama saya Raichul Amar, biasa dipanggil Men !”. Itulah kalimat yang pertama sekali saya dengar dari beliau, ketika memperkenalkan diri, di suatu tempat dan ruangan, kala pertama saya mengikuti tes masuk IAIN Imam Bonjol Padang tahun 1993. Rasanya baru kemaren !

(c) Muhammad Ilham
...selengkapnya...